Keutamaan seorang Da’i.
Berdakwah menyeru kepada kebenaran adalah pekerjaan mulia para Nabi yang diwarisi oleh para da’i manusia-manusia pilihan sepanjang sejarah. Sesuatu yang berpotensi meningkatkan kemuliaan setinggi-tingginya memiliki resiko untuk jatuh kepada kehinaan yang serendah-rendahnya. Untuk itu sangat diperlukan memahami etika dan kualifikasi seorang penyeru (da’i) agar dapat meraih ketinggian kemuliaannya dan terhindar dari kesalahan yang menjerumuskan kepada kerendahan kehinaannya .
Allah SWT memuji para penyeru kebenaran dan mengabadikan pujianNya dalam alQur’an sebagai manusia dengan profesi terbaik dan manusia sukses dengan keuntungan yang besar.
Surat fushilat,
33. siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
34. dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
35. sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar.
Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, ayat ini turun berkenaan dengan muazin yang saleh, namun ayat ini berlaku umum untuk para penyeru (da’i) yang mengajak kepada Allah Pemilik kebahagian yang kekal di akhirat dengan melakukan amal saleh dan mencegah kemungkaran. Ayat ini turun pada saat adzan belum disyari’atkan, karena turunnya di Makkah, sedangkan azan diberlakukan di Madinah setelah hijrah. Yaitu ketika Abdurrahman bin Abduribbih al Anshori bermimpi, kemudian mimpinya diceritakan kepada Rasulullah SAW, lalu Rasul SAW mendiktekan mimpi Abdullah itu kepada Bilal. Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa makna ayat ini bersifat umum untuk setiap pengajak kebenaran (da’i). Lebih dijelaskan lagi pada ayat berikutnya dimana ada adab untuk menghadapi kejahatan dengan cara yang baik yang akan mengakibatkan musuh sekalipun bahkan bisa berubah menjadi sahabat setia. Hal ini hanya banyak terjadi pada para du’at dan jarang terjadi pada muazin. Sehingga ayat ini direspon oleh para sahabat dengan menyebarnya dakwah sampai ke luar batas Makkah. Bahkan terbentuk komunitas yang besar di Madinah yang nantinya berubah menjadi sebuah negara yang terus membesar yang belum pernah sebelum dan sesudahnya terjadi dalam sejarah peradaban manapun.
Etika dan Kualifikasi yang harus dimiliki seorang da’i
1.Shalat malam.
Sebagaimana firman Allah SWT surat al-Muzammil:
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.
Karena seorang da’i menyeru dengan al-Qur’an, sedangkan al-Qur’an adalah qoulan syaqiila, perkataan yang berat, maka pemikulnya harus seseorang yang kuat pula. Dan kekuatan ini bukan kekuatan fisik semata lebih dari itu adalah kekuatan spiritual. Shalat malamlah sarananya dengan kadar yang berbeda pada setiap orangnya. Imam Ibnu Katsir menyebutkan tentang perkataan yang berat ini, yaitu, ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan terasa sangat berat oleh Nabi karena keagungannya. Sebagaimana dikatakan oleh Zaid bin Tsabit: ”Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah. Ketika itu pahanya ada di atas pahaku dan hampir saja pahaku remuk.”
2. Berkata sesuai dengan amal
Ash-Shaf:
2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Al-Baqarah:
44. mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?
Ash-shaf ayat 2 dan 3 merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang menetapkan janji atau suatu perkataan kemudian tidak menepatinya. Inilah resiko seorang penyeru untuk tidak mengatakan sesuatu yang dirinya sendiri tidak ingin mengerjakannya. Kalau hal ini dilakukan maka kemurkaan Allah amat besar. Tentu berbeda dengan menganjurkan sesuatu yang belum dikerjakan penyeru tetapi penyeru tersebut belum sempat mengerjakannya karena belum datang kesempatan untuk melakukannya. Misalkan seorang da’i yang belum berhaji karena belum mampu, diluar kasus ini apabila ia menganjurkan kaum muslimin untuk berhaji.
Surat Al-Baqarah ayat 44 ini, ayat ini memiliki pesan yang senada dan ditujukan kepada ahli kitab yang kadang kala menganjur kebaikan kepada kaum muslimin. Hal ini sering kita lihat dimana orang-orang non muslim ikut campur dalam keilmuan islam yang tidak jarang kaum musliminpun berguru kepada mereka. Untuk hal ini Anas bin Malik berkata Rasulullah Saw bersabda: Pada malam aku di isra’kan aku melihat suatu kaum yang mengguntingi lidahnya dengan gunting dari api ”Beliau bersabda ”Aku bertanya,”Siapakah mereka itu?”mereka menjawab, ”Kaum itu adalah para penceramah umatmu dari kalangan ahli dunia, yaitu yang menyuruh manusia berbuat kebajikan, namun mereka melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca al-Kitab. Tidakkah mereka berakal?”
3. Bersabar dan Santun.
Anjuran untuk tetap elegan dalam berdakwah walaupun objek yang didakwahi melakukan celaan hinaan, maupun gangguan.
Al Muzammil:
10. dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
11. dan biarkanlah aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. ;
4. Mengenal karakteristik penghambat dakwah.
Yang tak kalah pentingnya adalah mengenal musuh dakwah, sifat dan tindakannya, sehingga seorang juru dakwah tidak salah sasaran dalam berkawan dan mensikapi lawan. Hal ini akan sangat membantu efektifitas yang dilakukan seorang da’i. Allah SWT memperingati kita dengan surat al-Mu’min.
35. (yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.
Surat Al-Baqoroh
41. dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.
42. dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui.
67. orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.
68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
69. (keadaan kamu Hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti Keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi.
70. Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?[649]. telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, Maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.
71. dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dari kalangan intern kaum muslimin, permasalahan dakwah tidak kalah peliknya, adakelompok tertentu yang gampang mengkafirkan sesama muslim, memusyrikannya ataupun hujatan-hujatan lainnya, Dr. Aidh memiliki komentar mengenai hal ini, Saya adalah orang yang tidak setuju dan melawan segala bentuk TASYHIR atau penggembor-gemboran kejelekan dan kesalahan jamaah-jamaah Islam itu. Kita harus mengakui bahwa jamaah-jamaah Islam yang ada itu semuanya telah berijtihad, telah berusaha sungguh-sungguh untuk menyampaikan agama Allah SWT.
Jamaah Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh telah melakukan perjuangan dan dakwah dengan cara yang mereka anggap sebagai cara yang benar. Syeikh Al Abdul Aziz bin Baz telah bertemu dengan beberapa dari mereka, seperti Muhammad Quthb (Mesir), Syekh Az-Zindani (Yaman), dan lainnya. Dan Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa mereka adalah IKHWAN kita semua, dan mereka (Jamaah Ikhwanul Muslimin) telah memberi manfaat yang sangat banyak pada kaum muslimin. Bahwa mereka punya kesalahan, kita semua juga punya kesalahan. Insya Allah kami akan mengingatkan mereka. Tidak ada manusia yang maksum. Kita semua bukan malaikat, jadi semua punya kesalahan. Hanya Rasulullah saw. manusia yang maksum.
Beliau (Syekh Bin Baz) mengingatkan kita agar jangan menyibukkan diri dengan kesalahan-kesalahan itu, dengan mengekspose kesalahan atau kekeliruan mereka, lalu kita dengan sengaja meninggalkan musuh-musuh Allah yang sudah nyata, dari kaum Nasrani dan Yahudi, yang berusaha menyerang dan menjatuhkan kaum muslimin.
Dimana kita meletakkan akal sehat kita? Kenapa kita tidak mengambil manfaat dan kebaikan dari sisi-sisi baik jamaah-jamaah yang ada itu, dan kemudian menyampaikan nasehat dan meluruskan kesalahan mereka?
Jamaah Tabligh telah menyampaikan Islam ke berbagai belahan dunia, sampai ke Kanada, Australia, bahkan ke Cina, dan banyak wilayah dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin juga seperti itu, dan seperti kita tahu di Turki dan Hamas Palestina yang kini dikaruniai Allah.
Kenapa kita tidak sibuk memperbaiki diri kita sendiri, lalu kita kemudian baru berusaha memperbaiki orang lain? Kenapa kita sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at lalu kemudian mengekspos nya di berbagai media. Dalam sebuah hadits yang di HASAN kan oleh sebagian besar ulama hadits, Rasulullah saw. mengatakan yang artinya: “Beruntunglah orang yang menyibukkan diri dengan mengetahui dan memperbaiki aib-aib nya sendiri.”
Sahabat Abu Darda pernah mengatakan: “Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba, manusia biasa.”
Saya adalah seorang tolabul ilmi yang kecil, belum sampai pada derajat ulama-ulama besar. Di Arab Saudi saya dengan beberapa teman mendapatkan tuduhan dari sementara orang sebagai pelaku bid’ah, sang khawarij, dan sebagainya. Lalu saya pergi bersama beberapa teman menemui Syekh Abdul Aziz bin Baz dan menyampaikan hal itu. Syekh bin Baz mengatakan, hendaklah kita menghisab mereka dengan sebaik-baiknya. Janganlah kita kembalikan omongan mereka sebagaimana mereka ngomong. Cukup dengan bahasa yang lemah lembut. “Tulislah berbagai syair sebagai balasan atas omongan mereka. Insya Allah mereka mendapat hidayah dari Allah SWT,” kata Bin Baz.
Dan beliau (Syeikh bin Baz) juga mengatakan, saya bisa saja melakukan kesalahan. Dan saya tumbuh, besar, dan berkembang di sebuah negara yang dipenuhi dengan para ulama, dimana setiap ada satu kesalahan yang disampaikan pasti akan diberikan peringatan oleh para ulama besar. Beliau juga mengatakan, dirinya akan sangat berterima kasih bila ada seseorang yang memberikan nasihat kepadanya. Dalam salah satu ceramah di Jeddah, beliau mengatakan: “Ada seseorang yang memberi catatan yang meluruskan kesalahan saya waktu saya menyampaikan satu bait syair. Dan saya menyampaikan rasa terima kasih pada orang yang meluruskan itu.”
[648] Maksudnya: Berlaku kikir
[649] 'Aad adalah kaum Nabi Hud, Tsamud ialah kaum Nabi Shaleh; penduduk Madyan ialah kaum Nabi Syu'aib, dan penduduk negeri yang telah musnah adalah kaum Nabi Luth a.s.
5.Berpegang teguh kepada prinsip
Keteguhan prinsip juru dakwah adalah harga mutlak.Tidak ada kompromi dengan kemusyrikan dalam kerangka tidak keluar dari pemahaman sesuai sunnah Nabi SAWyang diabadikan dalam catatan sirahnya.
Sebagaimana firman Allah surat Yusuf:
108. Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".
Penutup
Menjadi juru dakwah seharusnya menjadi cita-cita setiap mu’min. Syarat-syarat untuk menjadi juru dakwah menjadi mutlak untuk diketahui . Yang tak kalah pentingnya adalah mengenal hal-hal,pribadi atau komunitas yang menghambat dakwah. Dengan menguasai unsur-unsur utama yang tersebut di atas dalam berdakwah ini insya Allah gerak dakwah kaum muslimin akan bisa lebih baik.
Daftar Pustaka
Musnad Imam Ahmad,
Muhammad Nasib ar-Rifa’I, Taisir al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir Jilid IV
Muhammad Nasib ar-Rifa’I, Taisir al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir Jilid I
Ceramah Dr.Aidh Al-Qarni di Hotel Sofyan,Cikini, penyelenggara ,Pustaka Al-Kautsar
Minggu, 22 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar